Jumat, 07 Desember 2012

cerpen sedih



Peluklah Aku
Di tengah derasnya hujan ku duduk termenung di atas tempat tidurku. Sering ku melamun tentang apa yang yang terjadi padaku  dan ibuku. Srdah 15 tahun ini aku tak tahu siapa ayahku dan aku tak pernah mendapat kasih saying dari ibuku. Sering ku merasa iri kepada teman-teman, mereka mempunyai orang tua lengkap dan mendapat kasih sayangnya. Pernah ku bertanya kepada ibu siapa ayahku, namun inu tak pernah menjawab pertanyaanku. Berkali-kali ku bertanya namun tak pernah ku dapatkan jawabannya. Aneh rasanya sebenarnya mereka ada masalah apa sampai-sampai ayah tak ada selama 15 tahun.
Pada suatu hari di sekolahku sedang ada pembagian rapot, seperti biasa rapot ku diambil oleh nenek karena ibu ku sedang sibuk bekerja.
“hai tar ibu kamu mana?”
“ibuku ga kesini han”
“loh kenapa? Jadi rapot kamu di ambil sama nenek lagi yah?”
“iya han , ibu lagi sibuk sama pekerjaannya”
“hm sabar ya tar”
Hati ku sering merasa iri melihat kebahagiaan teman-teman ku. Kadang aku merasa tak punya ibu karena aku tak pernah merasakan kasih sayangnya. Ibu selalu berangkat kerja pagi dan pulang malam. Saat itu nilai-nilai ku lumayan bagus nenek mempunyai rencana mengajak ku pergi jalan-jalan ke puncak. Akupun mengajak ibuku.
“bu, nilai rapotku bagus loh”
“syukurlah kalo begitu”
“bu, aku mau jalan-jalan sama ibu?”
“sama nenek juga sama saja kan!”
“tapi aku pengennya sama ibu. Sekali ini aja bu”
“maaf tar ibu lagi sibuk, ngertiin ibu nak ibu bekerja juga untuk menghidupi keluara ini”
“tapi bu ….”
“udah lah tar kamu itu sudah besar jangan manja!”
Langsung ku berlari menuju kamarku ku menangis sekencang-kencangnya. “kenapa aku tak bisa dekat dengan ibu? Merasakan pelukannya pun aku ga pernah” ucapku dalam hati. Keesokan harinya nenek membangunkan ku untuk bersiap-siap pergi ke puncak. Rasanya senang sekali tapi sedih juga karena tak ada ibu. Di puncak suasananya indah sekali, tak sia-sia kami datang ke sini. Namun di saat bahagiaaku teringat kepada ibu. Tak lama hpku berbunyi.
“halo?”
“halo,apa ini dengan keluarga bu Ani?”
“iya benar saya anaknya, ini  siapa?”
“saya yang menolong ibu kamu sekarang dia ada di eumah sakit”
“ibu saya kenapa?”
“ibu kamu kecelakaan”
“baiklah pak saya segera ke sana”
Setelah mendapat telpon itu aku langsung menemui nenek dan segera ergi ke rumah sakit. Sesampainya di sana aku langsung menemui dokter sambil terus menangis .
“dok dimana ibu saya?”
“bu Ani korban kecelakaan itu yah?”
“iya dok dimana ibu sekarang?”
“ibumu ada ddi ICU sekarang”
Aku langsung berlari sering ku terjatuh karena kecapean namun k uterus berlari menghampiri ibu.
“bu bangun bu ini Tari. Ibu bangun bu.”
Ku menangis sambil memeluk ibu yang sudah tak berdayalagi. Srdih rasanya melihat ibu seperti ini. Saat sedang memeluk ibu tiba-tiba dokter masuk.
“maaf persediaan darah di sini sudah habis. Jika ada yang mau mendonorkan darahnyasilahkan ikuti suster”
“saya mau dok”
Setelah beberapa lama di periksa hasilnya pun keluar.
“dok bagaimana hasilnya? Apa saya bisa mendonorkan darah untuk ibu?”
“hasilnya cocok kamu bisa mendonorkan darah untuk ibumu”
Darah Tari pun di ambil untuk segera di donorkan kepada ibunya. Setelah beberapa hari di rawat ibu Tari pun sembuh dan di perbolehkan untuk pulang. Hatiku senang sekali melihat ibu bisa sembuh seperti ini. Aku pun berusaha menuruti semua keinginan ibu.
“bu aku seneng ibu sembuh”
“iya”
“bu aku pengen di peluk sama ibu”
“kayak anak kecil aja kamu”
“sekali aja bu”
“udah deh kamuajangan manja ibu itu baru sembuh”
Aku pun hanya bisa terdiam tak bisa memaksakan kemauanku kepada ibu. Di tengah perjalanan pulang tiba-tiba ibu menyuruh supir berhenti di pinggir jalan dan menyuruh pak supir untuk membelikan martabak di pinggir jalan itu.
“pak tolong belikan martabak itu”
“ibu mau martabak? Biar saya saja pak yang beli untuk ibu”
“ya sudah”
Akupun pergi tak lama martabak itu pun selesai di buat. Namun saat aku akan ke mobil tiba-tiba dari arah utara ada sebuah mobil yang melaju kencang dan tiba-tiba menabrakku. Semua orang yang ada di tempat itu kaget dan segera menghampiri ku termasuk ibu yang menghampiri ku. Dengan menahan rasa sakit ku berbicara kepada ibu.
“bu ini martabaknya! Maaf gara-gara aku martabak ibu jadi kotor”
“gpp tar, kamu baik-bak aja kan tar? Sabar srbrntar lagi ambulance akan datang”
“aku udah ga kuat bu”
“sabar nak sebentar lagi”
“aku boleh minta sesuatu ga bu? ini permintaan terakhir aku”
“minta apa sayang?”
“aku ingin di peluk ibu”
Setelah berkata itu Tari dinyatakan meninggal. Ibunya langsung memeluk jasad Tari drngan erat sambil menangis. Ibunya menyesal dan merasa sangat kehilangan karena semasa hidup nya Tari selalu di tinggal kan oleh ibunya. Kini ibunya pun hanya bisa menyesali perbuatannya dan memeluk jasad anaknya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar